Buket Mawah Merah #2

Desember berlalu. Namun, dinginnya tetap membuat tulang-tulangku seperti membeku. Sungguh, jika tidak ada secangkir kopi hitam dan hangat seperti ini, aku akan mati kedinginan. Dengan segelas kopi hitam di tangan, aku berjalan menjelajahi taman kota di malam hari melalui balkon apartemenku. Tidak terlalu ramai dan menenangkan. Tapi rasanya terlalu dingin untuk melangkahkan kaki keluar dari pintu apartemen.

 Samar-samar, harum mawar merah yang tergeletak di atas meja rias tercium olehku. Sebenarnya tiga hari yang lalu kelopaknya masih merah merekah. Tapi sekarang menjadi sedikit kecoklatan. Kupandangi bunga di atas meja riasku itu. Kenapa matinya secepat itu? Aku bahkan belum sempat meletakkannya

Read more: http://www.berbagipuisi.com/muhirassegaf/kumpulan-novel/buket-mawah-merah-2